Keceriaan bukanlah kunci kebahagiaan. Tawa kami bukan mengartikan kesenangan. Senyum kami hanya menjadi pembalut kesengsaraan. Sedih kami takkan berarti dikehidupan yang berbeda. Air mata kami hanya sungai yang dipenuhi sampah. Kekuatan kami bagai semut yang mencoba merobohkan tembok cina.
Sabtu, 28 Februari 2026. Tawa canda anak-anak yang sedang bermain ditaman pecah seketika. Roket besar menghantam wilayah bermain anak-anak. Apa salah anak-anak ?. Darah mengalir bak sungai deras di sekitaran taman membasahi tubuh mereka. Rumput-rumput berubah menjadi merah kental. Ratusan anak kehilangan nyawa.
Dunia sekarang memang tak pantas untuk ditinggali manusia baik. Anak-anak tak berdosa seringkali menjadi tumbal dari orang-orang yang haus kekuasaan. Beda paham akan berdampak kepada pembumihangusan ras. Seperti terjadi di Syria 2016 silam
Nyawa orang yang berbeda paham dengan mereka bagaikan tak berarti. Nyawa orang-orang yang tidak bersalah bagaikan jalan pemulus kekuasaan yang fana. Kekuasaan abadi hanyalah milik Tuhan semata.
Hijau bumipun seakan menjadi merah. Penguasa jahat saling bertikai. Rakyat kecil hanya menjadi korban. Dunia memang tak pantai buat kami. Dunia pantas buat mereka yang menyiksa rakyat kecil. Dunia memang pantas buat mereka yang gila harta.
Entah dimana kami bisa bersembunyi. Dasar tanah sudah digali, bahkan itulah menjadi kubur kami. Kamipun hanya berharap segera hidup tenang di negeri Langit sana.
Senin, 9 Maret 2026. Belum terlalu jauh dan lepas dari kesedihan. Gedung dimana rakyat kami menjalankan aktivitasnya hancur luluh lantah oleh roket tidak bertanggungjawab sang penguasa zalim. Ribuan tulang punggung kehilangan nyawa untuk menghidupi keluarganya yang menunggu dirumah.
Apa salah kami ? Tidak bolehkah kami untuk hidup bebas menikmati hari-hari kami seperti kalian ?. Suara kami bagai angin sejuk yang menghembus ditelinga-telinga warga dunia. Teriakan kami seperti suara kerikil yang jatuh jauh dari keramaian. Hanya kepada Tuhan-lah kami selalu berlindung dan meminta.
Kuasa Tuhan-pun Maha Besar. Bencana alam dahsyat menerpa negeri zalim ini. Kamipun terlindung darinya. Kaum kapitalis merasakan kemelaratannya akibat bencana ini. Dunia pun dengan sigap membantu. Lalu, kenapa dengan kami ? Suara kami ? Jeritan kami ? Kenapa tidak ada yang peduli ? Hanya rakyat kecil yang bernasib sama seperti kita di negeri lain lah yang peduli dengan kami, dan kamipun peduli dengan mereka. Tapi apa daya kita.
Kita pun telah dijanjikan Tuhan tempat dimana orang teraniaya dan beriman bersatu dan gembira. Surga.
Sabtu, 28 Februari 2026. Tawa canda anak-anak yang sedang bermain ditaman pecah seketika. Roket besar menghantam wilayah bermain anak-anak. Apa salah anak-anak ?. Darah mengalir bak sungai deras di sekitaran taman membasahi tubuh mereka. Rumput-rumput berubah menjadi merah kental. Ratusan anak kehilangan nyawa.
Dunia sekarang memang tak pantas untuk ditinggali manusia baik. Anak-anak tak berdosa seringkali menjadi tumbal dari orang-orang yang haus kekuasaan. Beda paham akan berdampak kepada pembumihangusan ras. Seperti terjadi di Syria 2016 silam
Nyawa orang yang berbeda paham dengan mereka bagaikan tak berarti. Nyawa orang-orang yang tidak bersalah bagaikan jalan pemulus kekuasaan yang fana. Kekuasaan abadi hanyalah milik Tuhan semata.
Hijau bumipun seakan menjadi merah. Penguasa jahat saling bertikai. Rakyat kecil hanya menjadi korban. Dunia memang tak pantai buat kami. Dunia pantas buat mereka yang menyiksa rakyat kecil. Dunia memang pantas buat mereka yang gila harta.
Entah dimana kami bisa bersembunyi. Dasar tanah sudah digali, bahkan itulah menjadi kubur kami. Kamipun hanya berharap segera hidup tenang di negeri Langit sana.
Senin, 9 Maret 2026. Belum terlalu jauh dan lepas dari kesedihan. Gedung dimana rakyat kami menjalankan aktivitasnya hancur luluh lantah oleh roket tidak bertanggungjawab sang penguasa zalim. Ribuan tulang punggung kehilangan nyawa untuk menghidupi keluarganya yang menunggu dirumah.
Apa salah kami ? Tidak bolehkah kami untuk hidup bebas menikmati hari-hari kami seperti kalian ?. Suara kami bagai angin sejuk yang menghembus ditelinga-telinga warga dunia. Teriakan kami seperti suara kerikil yang jatuh jauh dari keramaian. Hanya kepada Tuhan-lah kami selalu berlindung dan meminta.
Kuasa Tuhan-pun Maha Besar. Bencana alam dahsyat menerpa negeri zalim ini. Kamipun terlindung darinya. Kaum kapitalis merasakan kemelaratannya akibat bencana ini. Dunia pun dengan sigap membantu. Lalu, kenapa dengan kami ? Suara kami ? Jeritan kami ? Kenapa tidak ada yang peduli ? Hanya rakyat kecil yang bernasib sama seperti kita di negeri lain lah yang peduli dengan kami, dan kamipun peduli dengan mereka. Tapi apa daya kita.
Kita pun telah dijanjikan Tuhan tempat dimana orang teraniaya dan beriman bersatu dan gembira. Surga.
